Monday, July 29, 2013

laporan pengukuran dasar



Nama Mahasiswa            : Ikhsansyah Putra Pratama
NIM                                 : 1201214
No. Kelompok                 :
Program Studi                  : Teknik Perminyakan konsentrasi teknik Geology
Semester/Kelas                : 1/Geology B
Pengukuran Dasar
Tgl Praktikum                     :
Nama Dosen                      : Rubana Edison
Nama Asisten                    : -
Teman Kerja                      : 1. Suriani
                                            2. Mahmuda
                                            3. Ilham Nur Setiawan
                                            4. Karisma Prawinata 






PENDAHULUAN

Dalam fisika, pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas mengukur menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari berbagai fenomena yang sedang dipelajari.  Mengapa demikian?

Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi pengukuran atau mengukur itu sendiri. Mengukur adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang telah disepakati. Misalnya untuk mengukur panjang suatu kabel maka kita bisa menggunakan meteran. Dalam hal ini besaran yang dibandingkan adalah panjang dari kabel tersebut. Sedangkan besaran pembandingnya adalah meteran. Meteran merupakan alat ukur besaran panjang yang satuannya telah disepakati. Dengan demikian jika nilai hasil perbandingan kedua besaran tersebut menunjukkan bahwa panjang kabel itu ternyata 1,5 kali lebih panjang dari ukuran satu meteran dapat dikatakan bahwa panjang kabel yang terukur adalah 1,5 meter.

Mengukur itu sangat penting untuk dilakukan. Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu permasalahan secara kuantitatif. Dan jika dikaitkan dengan proses penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari data-data yang mendukungnya.

Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-data numerik yang menunjukkan pola-pola tertentu sebagai bentuk karakteristik dari fenomena atau permasalahan tersebut. Dengan demikian, maka dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang bersifat kualitatif berdasarkan pola-pola yang dihasilkan oleh data-data kuantitatif tersebut.

Dengan salah satu argumentasi di atas, sudah dapat kita ketahui betapa penting dan dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam fisika. Maka tidak ada alasan bagi para fisikawan bahkan mahasiswa untuk mengabaikannya dalam setiap riset-riset mereka.




TUJUAN PERCOBAAN

a.       Memahami cara menggunakan alat ukur jangka sorong dan micrometer sekrup yang benar.
b.      Memahami cara melaporkan hasil pengukuran yang benar.
c.       Mencari massa jenis benda.

DASAR TEORI
 1.      Besaran dan Satuan

        Besaran dalam fisika diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai besaran (besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam pengukuran. Satuan Internasional (SI) merupakan satuan hasil konferensi para ilmuwan di Paris, yang membahas tentang berat dan ukuran. Berdasarkan satuannya besaran dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

  2.      Besaran Pokok
       Besaran pokok adalah besaran yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan besaran yang lain. Satuan besaran pokok disebut satuan pokok dan telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Besaran pokok bersifat bebas, artinya tidak bergantung pada besaran pokok yang lain.

         Dimensi suatu besaran adalah cara besaran tersebut tersusun atas besaran-besaran pokoknya. Pada sistem Satuan Internasional (SI), ada tujuh besaran pokok yang berdimensi, sedangkan dua besaran pokok tambahan tidak berdimensi. Cara penulisan dimensi dari suatu besaran dinyatakan dengan lambang huruf tertentu dan diberi tanda kurung persegi.



        Berdasarkan table bahwa dapat diketahui dimensi tertentu dari suatu benda, misalkan untuk mengetahui Volume zat padat jika bentuknya beraturan, maka akan memiliki panjang, lebar, tinggi, diameter dan sebagainya.

PENGUKURAN CARA STATIS

          Untuk mengukur volume zat padat yang teratur bentuknya (kontinu) dapat pula dilakukan secara tidak langsung dengan mengukur perubah (variabel) yang membangunnya.

         Volume balok dapat juga dilakukan dengan cara mengukur panjang lebar dan tinggi dari balok itu sehingga :

Vbalok = p x l x t
Dengan;
p = panjang balok
l  = lebar balok
t  = tinggi balok


          Dalam menentukan massa jenis suatu benda pada percobaan ini, akan menerapkan Hukum Archimmides :
setiap benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, akan mendapat gaya ke atas sebesar beratfluida yang dipindahkan oleh benda itu.
Melalui pemahaman ini kita akan membandingkan harga massa jenis yang dihitung secara konfensional (hitung massa dan volume) dan dengan menerapkan hukum Archimides.


PENGUKURAN CARA DINAMIS

        Untuk mengukur benda dengan cara dinamis, maka benda harus dicari dahulu masa di udara dan masa di air dengan menggunakan neraca teknis.

Massa jenis (rapat massa) suatu zat adalah massa tiap satuan volume atau dapat dirumuskan:

V = Mu – Ma
Dengan ;
Mu = Massa udara
Ma = Massa air


Dengan ;
ρ = massa jenis (g/cm3)
M = massa zat (g)
V = volume zat (cm3)

         Jika massa dan volume dapat diketahui dengan cara menimbang zat itu dengan timbangan atau neraca teknis sehingga besaran massa dapat diukur langsung dengan alat ukurnya. Untuk mengukur langsung volume zat padat dapat dilakukan dengan memasukkan zat padat itu ke dalam gelas ukur yang berisi zat cair. Apabila zat itu tenggelam seluruhnya maka perubahan penunjukan volume itu dari zat padat tersebut.

        Tetapi untuk mengukur volume zat padat besarannya tidak selalu dapat diukur langsung seperti itu karena terdapat zat padat yang massa jenisnya lebih kecil dari zat cair sehingga kalau zat padat tersebut dimasukkan ke dalam zat cair akan mengapung atau melayang ( tidak tenggelam seluruhnya).

1.      JANGKA SORONG

           Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus millimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan bacaan digital. Pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah 0.05mm untuk jangka sorong dibawah 30cm dan 0.01 untuk yang diatas 30cm.
Kegunaan jangka sorong adalah:
           Untuk mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit:
Untuk mengukur kedalaman celah/lubang pada suatu benda dengan cara “menancapkan” bagian pengukur. Baikan pengukur tidak terlihat pada gambar karena berada di sisi pemegang.

           Mengukur Diameter Luar benda cara mengukur diameter, lebar atau ketebalan benda: putarlah pengunci ke kiri, buka rahang, masukkan benda ke rahang bawah jangka sorong, geser rahang agar rahang tepat pada benda, putar pengunci ke kanan. Mengukur Diameter Dalam Benda cara mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa atau tabung. Putarlah pengunci ke kiri, masukkan rahang atas ke dalam benda, geser agar rahang tepat pada benda, putar pengunci ke kanan. Mengukur Kedalaman Benda Cara mengukur kedalaman benda, putarlah pengunci ke kiri, buka rahang sorong hingga ujung lancip menyentuh dasar tabung, putar pengunci ke kanan. Skala Utama Dan Skala Nonius.
Jangka sorong  memiliki batas ketelitian 0,1 mm, artinya ketepatan pengukuran dengan alat ini sampai 0,1 mm terdekat.




                                                                                                                                                                    
Cara Membaca jangka Sorong

Mula-mula perhatikan skala nonius yang berlimpit dengan salah satu skala utama. Hitunglah berapa skala hingga ke angka nol. Pada gambar, skala nonius yang berimpit dengan skala utama adalah 4 skala. Artinya angka tersebut 0,4 mm. selanjutnya perhatikan skala utama. Pada skala utama, setelah angka nol mundur ke belakang  menunjukkan angka 4.7 cm. sehingga diameter yang diukur sama dengan 4,7 cm + 0,4 mm=4,74cm.
 2.      Mikrometer Skrup
Mikrometer memiliki ketelitian sepuluh kali
Lebih teliti dari pada jangka sorong.
Ketelitiannya sampai 0,01 mm. Mikrometer
Terdiri dari :
 -          Poros tetap
 -          Poros geser/putar
 -          Skala utama
 -          Skala nonius
 -          Pemutar
 -          Pengunci
Cara menggunakan micrometer :
 1.      Pastikan pengunci dalam keadaan terbuka.
 2.      Bukalah rahang dengan cara memutar kekiri pada skala putar hingga benda dapat dimasukkan ke  rahang.
 3.      Letakkan benda yang diukur pada rahang, dan putar kembali sampai tepat.
4.      Putarlah pengunci sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan terdengar bunyi “klik”.

ALAT DAN BAHAN
·         Jangka sorong
·         mikrometer sekrup
·         mistar
·         neraca
·         benda-benda yang akan diukur
o   Balok kayu
o   Balok Almunium
o   Balok Timah
o   Balok Kuningan
o   Balok plastik

METODE
a.       Ukurlah panjang balok menggunakan mistar,jangka sorong, dan micrometer sekrup sebanyak masing-masing 5 kali.
b.      Ukurlah jari-jari luar dan dalam ring logam menggunakan jangka sorong.
c.       Ukurlah kedalaman tabun silinder menggunakan jangka sorong.
d.      Masukkan hasil pengukuran ke dalam table.
e.       Laporkan hasil pengukuran tersebut dan bandingkan ketelitian masing-masing alat ukur.

HASIL PENGAMATAN
Table Pengamatan Balok Kuningan , m = 62,7 gram

No
Penggaris(cm)
Jangka sorong(cm)
Milimeter skrup(cm)
V (cm3)
 (g/cm3)
1
1,8
1,93
1,848
6,31
9,936
2
1,8
1,92
1,847
6,31
9,936
3
1,8
1,93
1,848
6,31
9,936
4
1,8
1,91
1,848
6,31
9,936
1,8
1,93
1,848
6,31
9,936
1,8
1,92
1,848
6,31
9,936









Table Pengamatan Balok Timah , m = 60,5 gram
No
Penggaris(cm)
Jangka sorong(cm)
Milimeter skrup(cm)
V (cm3)
 (g/cm3)
1
1,9
2,05
2,037
8,45
7,15
2
1,9
2,00
2,037
8,45
7,15
3
1,9
2,03
2,035
8,45
7,15
4
1,9
2,05
2,038
8,45
7,15
1,9
2,04
2,036
8,45
7,15
1,9


8,45
7,15






 
Table Pengamatan Balok Almunium , m = 21,4 gram
No
Penggaris(cm)
Jangka sorong(cm)
Milimeter skrup(cm)
V (cm3)
 (g/cm3)
1
1,9
1,97
1,975
6,39
3,348
2
1,9
1,95
1,975
6,39
3,348
3
1,9
1,96
1,974
6,39
3,348
4
1,9
1,97
1,975
6,39
3,348
1,9
1,97
1,973
6,39
3,348
1,9


6,39
3,348






Table Pengamatan Balok kayu , m = 3,1 gram
No
Penggaris(cm)
Jangka sorong(cm)
Milimeter skrup(cm)
V (cm3)
 (g/cm3)
1
2,0
2,06
2,048
8,58
0,36
2
2,0
2,00
2,048
8,58
0,36
3
2,0
2,05
2,047
8,58
0,36
4
2,0
2,06
2,048
8,58
0,36
2,0
2,06
2,049
8,58
0,36
2,0


8,58
0,36






Table Pengamatan Balok plastik, m = - gram
No
Penggaris(cm)
Jangka sorong(cm)
Milimeter skrup(cm)
V (cm3)
 (g/cm3)
1
1,9
1,97
1,974
-
-
2
1,9
1,98
1,985
-
-
3
1,9
1,95
1,955
-
-
4
1,9
1,98
1,984
-
-
1,9
1,98
1,985
-
-
1,9


-
-






PEMBAHASAN

Berdasarkan Percobaan pertama yang dilakukan pada minggu didapatkan data balok kuningan, balok almunium, balok plastik, balok kayu, balok timah berupa  ukuran Panjang, lebar dan tinggi, serta massa benda. Dan pada kali ini akan saya paparkan 2 pembahasan.
1.      Perbandingan pengukuran dinamis dan statis
2.      Membandingkan ketelitian alat ukur antara penggaris, jangka sorong, dan milimeterscrup.

       I.            Perbandingan pengukuran dinamis dan statis
 Untuk meneliti keakuratan hasil pengukuran tersebut perlu dilakukan 2 kali percobaan dengan objek yang sama dan dengan metode yang berbeda. pertama dilakukan perhitungan secara matematis (statis) berdasarkan rumus yang ada atau pun pengukuran dengan menggunakan alat ukur, kemudian yang kedua pengukuran dengan teori archimedeas dengan mencelupkan benda kedalam air (pengukuran dinsamis) kemudian kita dapatkan perbandingan.
1.      Balok Timah
Diketahui, Tabel massa benda Balok Timah = 60,5 gram
Massa Jenis = massa / volume    
  
                        =   60,5  / 8,45
                        =   7,15 gr/cm3
                    

 
Secara statis
Volume         =     p x l x t                                                
  
Percobaan  =     2,816 x 2,816x 2,816                                               
                      =     8,45 cm3                                                                
Secara dinamis
·    Vbalok    = Mudara – Mair             
= 60,554,5              
= 6 cm3

2.      Balok kuningan
Diketahui, Tabel massa benda Balok Kuningan = 62,7 gram

Massa Jenis = massa / volume    
  
                        =   62,7  / 6,31
                        =   9,936 gr/cm3

 
Secara statis
Volume         =     p x l x t                                                
Percobaan  =     2,10 x 2,10 x 2,10                                                    
                      =     6,31 cm3                                                                

Secara dinamis
·    Vbalok    = Mudara – Mair             
= 62,758.5
= 4,2    cm3     

3.      Balok Almunium
Diketahui, Tabel massa benda Balok Almunium= 21,4 gram

Massa Jenis = massa / volume    
  
                        =   21,4/ 6,39
                        =   3,348 gr/cm3

 
Secara statis
Volume         =     p x l x t                                                
Percobaan  =     2,13 x 2,13 x 2,13                                                    
                      =     6,39 cm3                                                                

Secara dinamis
·    Vbalok    = Mudara – Mair             
= 21,418,5
=2,9 cm3 

4.      Balok Kayu
Diketahui, Tabel massa benda Balok  Kayu = 3,1 gram

Massa Jenis = massa / volume    
  
                        =   3,1 / 8,58
                        =   0,361 gr/cm3
                    

 
Secara statis
Volume         =     p x l x t                                                
Percobaan =     2,86 x 2,86 x 2,86                                         
                      =     8,58 cm3                                                                

Secara dinamis
·    Vbalok    = Mudara – Mair             
= 3,1 – 0
= 3,1 cm3        

5.      Balok Plastik
Diketahui, Tabel massa benda Balok Plastik = terlalu ringan

Massa Jenis = massa / volume    
  
                        =  terlalu ringan
                    

 
Secara statis
Volume         =     p x l x t                                                
Percobaan 1  =    -                  

Secara dinamis
·    Vbalok    = Mudara – Mair             
= - (terlalu ringan)




    II.            Membandingkan ketelitian penggaris , jangka sorong dan Milimeter skrup
Perbandingan hasil perhitungan ketelitian antara penggaris, jangka sorong dan milimeter skrup melalui percobaan praktek yang telah dilakukan adalah
a)      Penggaris memiliki ketelitian yang terburuk, karena hanya bisa diamati sampai dengan 0,1 cm. Dan itupun belum ditambah dengan ketidak ketelitian praktikan yang menambah peluang ketidak telitian tersebut.
b)      Jangka sorong memiliki tingkat ketelitian yang lebih baik dari penggaris. Karena dapat mengukur sampai dengan 0,01 cm.
c)      Terakhir Milimeter scrup. Alat ini memiliki tingakt ketelitian terbaik karena dapat mengukur dengan tingkat ketelitian sampai 0,001 cm.




KESIMPULAN


              Mengukur adalah kegiatan membandingkan dangen suatu besaran yang telah ditetapkan. Mengukur tidak lepas dari kehidupan sehari kita, mulai dari menimbang, mengukur kecepatan dan lain sebagainya. Dalam mengukur dibutuhkan kecermatan yang sangat telti agar hasilnya lebih akurat dan juga dibutuhkan alat-alat yang memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Seperti milimeter scrup. Millimeter skrup alat pengukur yang paling baik dari pada jangka sorong maupun penggaris karena memiliki tingka ketelitian 0,001cm sedangkan jangka sorong 0,01cm dan penggaris 0,1cm.
              Cara pengukuran statis lebih baik dari pada pengukuran dinamis yang menggunakan hukum archimedes, hal ini dikarnakan pengukuran statis lebih teliti dan lebih akurat sedangkan pengukuran dinamis juga cukup baik tapi jika untuk benda yang memiliki bentuk tak beraturan agar memudahkan proses pengukurannya.
Saran
1.      Pengukuran harus menggunakan data-data yang valid.
2.      Memberikan pengarahan yang lebih agar para mahasiswa tidak kebingungan dan dapat mengerti lebih baik

DAFTAR PUSTAKA






Reaksi:

1 comment: